Pemeliharaan Tahun I Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - To' Sapan - Makale Selatan

Berikut adalah galeri pemeliharaan Tahun I  Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - To' Sapan - Makale Selatan
Papan Nama

Gubuk Kerja

PUPUK KANDANG

PEMASANGAN AJIR

TIM EVALUASI KEGIATAN 

JENIS TANAMAN BUANGIN (Casuariana Sp.)

Pemeliharaan Tahun I Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - Darak - Sa'dan Andulan

Berikut adalah galeri pemeliharaan Tahun I  Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - Darak - Sa'dan Andulan

PAPAN NAMA DAN GUBUK KERJA

BIBIT PENYULAMAN

PENYULAMAN

JENIS TANAMAN URU

JENIS TANAMAN BUANGIN

PENGANGKUTAN BIBIT UNTUK PENYULAMAN

MONEV KEGIATAN

MONEV KEGIATAN

Pembuatan Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Buntu Karua 2013

PENGUKURAN LOKASI

PAPAN NAMA DAN GUBUK KERJA

BIBIT YANG SIAP DI DISTRIBUSIKAN

BIBIT YANG SIAP DI DISTRIBUSIKAN

DISTRIBUSI BIBIT

BIBIT SIAP TANAM DI LOKASI KEGIATAN

PENANAMAN

MONEV KEGIATAN

Pembuatan Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - Kelurahan Pasang

Berikut adalah kegiatan Rehabilitasi Mata Air di Kelurahan Pasang-Kecamatan Makale Selatan-Tana Toraja

BIBIT SIAP DI DISTRIBUSIKAN
DISTRIBUSI BIBIT

PENANAMAN  BIBIT

PENGANGKUTAN BIBIT KE LOBANG TANAM

JENIS BIBIT BUANGIN

MONEV KEGIATAN


Peta Pelaksanaan Kegiatan Areal Model Rehabilitasi Sumber Mata Air

Lombok - Posi' - Bua - Luwu



Nenek Masiri (Luwu Utara)

Darak (Sa'dan-Andulan-Toraja Utara)

Ratte Anan (Tana Toraja)

Pembuatan Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - Sumarorong - Part 2

         Dipostingan sebelumnya telah dibahas tentang rehabilitasi mata air di Sumarorong, di postingan ini akan dibahas kelanjutan kegiatan di Sumororong setelah pembuatan pondok dan pemasangan pembuatan papan nama. Kegiatan berikutnya adalah pendistribuasian bibit ke lobang tanam. Kelancaran pendistribusian bibit ke masing-masing lubang tanaman merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan tumbuh tanaman. Sehubungan dengan itu perlu disediakan peralatan distribusi berupa kendaraan angkut (truk) beserta kendaraan dalam jumlah yang cukup. Tempat pengumpulan bibit di lokasi perlu dipersiapkan dengan baik, agar bibit tetap dalam keadaan sehat dan baik didistribusi ke lubang-lubang tanam. Distribusi/pengangkutan bibit dilakukan dengan memperhatikan kondisi topografi areal penanaman. Pengangkutan bibit perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya kerusakan bibit.  Oleh karena itu pengangkutan bibit dari tempat penampungan bibit ke areal penanaman yang tidak dapat dijangkau kendaraan dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia. Pengangkutan bibit / distribusi bibit kelobang tanam dilaksanakan pada tanggal 14sampai dengan 15 Agustus 2013, dengan kegiatan fisik sebanyak 30 HOK dan biaya sebesar Rp. 1.350.000,-. 

Selanjutnya adalah penanaman, Penanaman menyangkut tata letak tanaman dilakukan sesuai dengan konfigurasi lapangan. Jarak tanam adalah (5X5) m dengan pola tanam sesuai dengan kontur lapangan. Untuk areal yang datar digunakan pola tanam segiempat sedangkan pada areal yang miring digunakan pola segitiga. Pada tempat-tempat yang memungkinkan, masyarakat diperkenankan untuk memanfaatkan ruang-ruang antara dengan menanam tanaman semusim, yang sekaligus diharapkan dapat mengamankan dan memelihara tanaman pokok. Pemanfaatan ruang-ruang antara ini dilakukan sepanjang secara teknis masih memungkinkan untuk itu.Sebelum dilakukan penanaman, pada setiap tapak lubang tanaman dilakukan pembersihan dan pengolahan tanah dengan baik. Pembersihan lapangan ini dilakukan secara manual oleh buruh yang berasal dari masyarakat sekitar lokasi kegiatan. Penanaman merupakan kegiatan yang menjadi sasaran inti kegiatan pembuatan  tanaman untuk Rehabilitasi sumber mata air ini. Oleh karena itu sebelum dilakukan penanaman maka secara berhati-hati dengan menempatkan tanaman sekitar 10 cm dibawah permukaan tanah normal. Setiap tanaman muda pada tanah yang kering diberi soil conditioner untuk mempertahankan kelembaban tanah.  Pada bagian atas permukaan tanah diberi mulsa untuk mencegah penguapan air dari tanah. Penaman dilakukan pada tanggal 16 sampai dengan 17 Agustus 2013, dengan jumlah kegiatan fisik sebanyak 30 HOK dan biaya sebesar Rp. 1.350.000,-. Langkah selanjutnya adalah pemeliharahan tahun berjalan, yang diisi dengan pemupukan, penyiangan dan pendangiran. Pemeliharaan tanaman juga dilakukan untuk mencegah/mengendalikan serangan serangga/hama dan penyakit yang menyerang tanaman.  Untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit ini maka tanaman dibersihkan dan diamati secara periodik (minimal sekali dalam seminggu).

Pemupukan

Penyiangan dan Pendangiran
Penyemprotan hama

Setelah kegiatan penanaman dan pemeliharaan, dilakukan kegiatan penyulaman. Kegiatan penyulaman tahun berjalan dilakukan setelah penanaman sudah laksanakan ­± 1 (satu) bulan. Untuk kegiatan pemeliharaan tahun berjalan penyulaman bibit sebesar 10 % dari total kebutuhan bibit. Rincian penggunaan bibit untuk kegiatan penyulaman pada lokasi Kecamatan Rantekamase Kabupaten Mamasa adalah sebanyak 22.000 x 10% = 2.200 batang. Penyulaman dilaksanakan pada tanggal 16 sampai dengan 17 November 2013, dengan kegiatan fisik sebanyak40 HOK dan biaya sebesar Rp. 1.800.000,-  
Penyulaman


Bibit merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan tumbuh tanaman di lapangan, oleh karena itu maka beberapa persyaratan pokok dalam pembuatan  bibit ini perlu dipenuhi. Persyaratan-persyaratan pokok yang dimaksudkan antara lain meliputi:·         Bibit berasal dari benih bermutu.
·         Proses pembuatan  bibitnya mengikuti suatu proses yang benar (proses standar)
·         Benih yang disemaikan sehat dan bebas dari bakteri dan penyakit·    Pembuatan  bibit (persemaian) didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup baik1.    Jenis Bibit
Untuk Rehabilitasi sumber mata air di Sungai  KecamatanRantekamase Kabupaten Mamasa seluas 12,5 ha diprioritaskan jenis tanaman yang disenangi oleh masyarakat sekitar untuk dibudidayakan yakni jenis uru.2.    Jumlah Bibit
Untuk Rehabilitasi sumber mata air di Sungai  Kecamatan Malimbong Balepe Kabupaten Mamasaseluas 12,5 ha dengan jarak tanam 3 x 3 m diperlukan bibit sebanyak 15.125 batang dengan rincian kebutuhan bibit untuk 12.5 hektar sebanyak 13887 batang dan bibit untuk penyulaman tahun berjalan sebanyak 1237 batang.
Jenis-Jenis Bibit

Sebagai kegiatan penutup maka dilakukan sosialisasi/pembekalan. Sosialisasi/pembekalan kelompok tani diselenggarakan oleh BP DAS Saddang. Materi sosialisasi menyangkut tentang kebijakan Pengelolaan DAS, rehabilitasi hutan dan lahan, teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman serta pembinaan kelembagaan. Tenaga pelatih/narasumber pada sosialisasi berasal dari BP DAS Saddang dan Dinas Kehutanan Kabupaten Mamasa.
Pertemuan dengan penyuluh





Pembuatan Areal Model Rehabilitasi sumber Mata Air Tahun 2013 - Sumarorong - Part 1

          Indonesia merupakan negara urutan ke-5 terkaya air di dunia (Water Resources Institute Washington, 1991), namun penyusutan luas daerah resapan air akibat pengembangan permukiman, perindustrian, serta pemekaran wilayah administrasi,penyusutan luas perairan danau, rawa, sungai, dan telaga akibat pendangkalan, gulma, alih fungsi kawasan lindung serta buangan bahan tambangmembuat ketersediaan air per kapita makin menipis, kualitas air pada sumber air kian merosot, terjadinya peningkatan ketegangan antara perkotaan vs pedesaan, hulu vs hilir, antar wilayah administrasi, dan keberlanjutan beban pengelolaan sumber daya air yang dialami generasi yang akan datang kian berat.


         Kemerosotan sumber daya air ini juga diikuti dengan rusaknya ekosistem di sekitar sumber air maupun di sepanjang aliran air atau sungai. Hal ini terbukti dengan tingkat erosivitas yang tinggi pada tepi sungai, bahkan menimbulkan dampak yang lebih besar yakni bencana banjir dan tanah longsor.


Tolok ukur keberhasilan konservasi tanah di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS), sub DAS dan sub-sub DAS adalah besarnya tanah yang hilang, dengan satuan ton per hektar per tahun. Namun demikian tolok ukur ini harus diperkuat dengan dampak on-site dan off-site yang lain. Dampak off-site sering jauh lebih serius, seperti pendangkalan waduk, rendahnya kualitas air, rusaknya ekosistem perairan, ancaman banjir dan kekeringan.


Kabupaten Mamasa merupakanbagiandariDAS Saddang yang termasukdalam DAS Prioritas I di Indonesia dengan kondisi DAS yang kritis. Pada tahun 2011 dan 2012 terjadi banjirdanbencana tanah longsor pada wilayah DAS Saddang sebagai akibat dari kurangnya vegetasi yang bisa membantu menurunkan erosi tanah terjadinya perambahan kawasan hutan dan bertambahnya pemukiman penduduk pada kawasan pinggiran sungai sehingga mempersempit daerah aliran sungai.


Upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan salah satu langkah prioritas Departemen Kehutanan guna mempertahankan, memperbaiki bahkan menambah luas kawasan berhutan dan konservasi air yang telah mengalami degradasi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Salah satu upaya RHL adalah Rehabilitasi sumber mata air yang diharapkan dapat berfungsi sebagai daerah penyangga bagi daratan di sekitarnya, sebagai penahan tanah agar tidak mudah terjadi erosi atau longsor akibat erosi permukaan maupun erosi tepi sungai.


BPDAS Saddang selaku Unit pelaksana teknis dari Kementerian Kehutanan melalui DIPA Bagian Anggaran 29 Tahun 2013 menganggarkan rehabilitasi sumber mata air seluas 12,5 ha yang diharapkan menjadi areal show window, media penyuluhan dan juga sebagai upaya rehabilitasi hutan dan lahan.


Dalam rangka mengevaluasikeberhasilan pelaksanaan pembuatan areal modelrehabilitasi sumber mata air di Kabupaten Mamasa , maka perlu disusun laporanakhirpelaksanaanpembuatan areal modelrehabilitasi sumber mata air tahun 2013.






Desa Rantekamase, kecamatan Sumarrong kabupaten Mamasa, berada di luar kawasan penggunaan hutan, yang berada pada titik geografis 030 7’ 42,1’’ LS dan 119019’ 25,2’’ BT ( Sungai Mamasa). Luas sungai Mamasa ini sekitar 12.5 ha. Di desa inilah lokasi pembuatan rehabilitasi sumber mata air. dalam rangka tersebut telah dilakukan beberapa kegiatan pertama, pembersihan lahan dengan sistem jalur


Jalan pemeriksaan dibuat selebar 150 cm, dan diharapkan dapat dilalui dengan mudah untuk melakukan pemeriksaan kegiatan mulai dari kegiatan penanaman sampai pada pemeliharaan. Kegiatan awal yang dilakukan sebelum pembersihan areal adalah menentukan arah larikan. Penentuan arah larikan berdasarkan kondisi lahan seperti topografi atau garis kontur yang ada. Selain itu penetapan arah larikan juga disesuaikan dengan pola dan jarak tanam yang diterapkan. Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilakukan penentuan arah larikan.



Pembersihan areal pembuatan tanaman rehabilitasi sumber mata air pada lokasi Sungai Parombean Desa Rantekamase Kecamatan Sumarorong Kabupaten Mamasa, dilakukan dengan sistem jalur. Persiapan lapangan dan pembuatan jalan pemeriksaan dilakukan pada tanggal 6 sampai dengan 8 Juli 2013, dengan volume fisik sebanyak 60 HOK dan biaya sebesar Rp. 2.700.000,- Pembersihan areal dilakukan pada jalur-jalur yang ditanami sesuai dengan garis kontur lapangan. Pembersihan dilakukan pada jalur dengan ukuran lebar minimal 50 cm





Kegiatan kedua yang dilakukan adalah pemancangan patok dan ajir, Ajir terbuat dari bambu/aur yang dibelah-belah, dengan tebal ± 1 cm dan lebar 2 cm dan dibelah. Ukuran tinggi ajir adalah 150 cm dan pemasangannya di lapangan dilakukan dengan cara menanaman bagian pangkal sampai sedalam 25 cm. Pemancangan ajir dilaksanakan pada tanggal 12 sampai dengan 13 Juli 2013, dengan jumlah kegiatan fisik sebanyak 30 HOK dan biaya sebesar Rp. 1.350.000,-









Lubang tanam dibuat dengan ukuran (30 x 30 x 30) cm. Pada sekitar lubang tanam dibuat piringan. Piringan adalah areal sekitar lobang tanaman (diameter 1 m) yang dicangkul dan dibersihkan dari tanaman pengganggu dan rumput-rumputan/alang-alang. Kegiatan pembuatan piringan dan lobang tanam dilaksanakan pada tanggal 14 sampa idengan 16 Juli 2013 dengan jumlah kegiatan fisik dilapangan sebanyak 130 HOK dan biaya sebesar Rp.5.850.000,-. 



Untuk mendukung kegiatan-kegiatan budidaya tanaman maka perlu dibangun Pondok Kerja. Jumlah Pondok Kerja yang dibutuhkan adalah sebanyak 1 unit, yang ditempatkan pada lokasi yang memiliki aksesibitas baik terhadap seluruh areal penanaman. Pondok kerja ini dilengkapi dengan beranda ukuran 1,5 x 4,0 meter untuk tempat bekerja sekaligus berdiskusi.




Pondok kerja yang dibangun pada lokasi kegiatan berukuran 4 x 6 m. Pondok kerja ini dibangun dengan tiang balok kayu, dinding papan, atap seng dan lantai papan. Pembangunan pondok kerja dirancang sesuai dengan kondisi budaya setempat. Pembuatan pondok kerja dan papan nama dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2013 dengan kegiatan fisik sebanyak 8 HOK dan biaya sebesar Rp. 360.000,-



Kegiatan berikutnya akan dibahas pada postingan berikutnya

.

Nama

Email *

Pesan *